September 19, 2026

Nyadran/ Sadranan

December 2, 2025

DAPOBUD-OPK: Ritus,

Nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih lekat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha”yang artinya keyakinan. Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya. Nyadran dikenal juga dengan nama Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah. Tradisi Nyadran berdasarkan sejarahnya merupakan suatu akulturasi budaya jawa dengan islam.

Kalurahan Sidoarum sendiri nyadran masih umum diadakan yang salah satunya di area makam Jengkelingan dan dilaksanakan setiap bulan ruwah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga masyarakat sekitar. Adapun perlengkapan dalam kegiatan yang dipersiapkan seperti ingkung ayam, tumpeng beserta lauk pauk, dan bunga. Selain itu, proses kegiatan nyandran ini di awali dengan pembacaan tahlil dan doa untuk orang yang sudah meninggal, lalu di adakan pengajian dan di akhiri dengan tabur bunga di setiap makam bersama ahli waris. 

Kapan pelaksanaan kegiatan tersebut: Menjelang datangnya bulan Ramdhan

Siapa yang terlibat: Masyarakat yang mengikuti kegiatan sadranan

Bacaan atau mantra yang digunakan: mencakup doa-doa Islam seperti “Assalamu’alaikum…” dan doa-doa memohon ampunan bagi almarhum serta dirinya sendiri.

Alat yang digunakan: Nasi gurih ingkung, nasi box, dan macam macam buah

Proses dari kegiatan tersebut: Kegiatan tersebut diawali dengan doa bersama di halaman makam yang dipimpin oleh seorang rois, setelah itu dilanjutkan ziarah tabur bunga dari masing- masing ahli waris ke makam leluhurnya, dan acara terakhir  merupakan tukar menukar makanan antar masyarakat sadranan.